imagin girl [part 5-end]

wae?,kenapa ini bisa terjadi, dia ada, tapi kenapa appa bilang dia tak ada, sejak kejadian tadi air mataku tak kunjung berhenti, kalau ia memang tidak ada, wae?, kenapa ciuman itu terasa nyata?. Na, dia ada, Alicia pasti ada. Sekarang aku, appa dan eomma sedang ada di ruangan psikkoterapi.
"Ada yang bisa saya bantu?" sapa psikoter yang ada di depanku
"anak saya pak, selama hampir seminggu ini dia selalu pergi entah kemana, dan dia berkata ia bersama seorang yeoja, kemarin saya melihatnya seperti sedang berbincang dan memeluk seseorang, tetapi tidak ada orang 1pun selain dia"
"appa, dia ada , Alicia ada, aku memang benar-benar memeluknya" selaku dengan kesal
"bapak dengar sendirikan?, padahal kemarin saya melihatnya sendiri di pinggir danau tengah hutan" jelas appaku lagi, itu membuatku naik pitam
"bisakah kau jelaskan namja?" tanya psikoter itu kepadaku
"sekitar seminggu yang lalu, aku bertemu dengannya di danau tengah hutan karena dia tersesat, aku mengantarnya pulang, rumahna hanya berjarak mungkin 100 meter dari rumahku, aku sering kesana bermain denganya, aku juga sempat mengajaknya jalan-jalan, kemarin aku menyatakan perasaanku, tapi tadi pagi, ketika kau berjalan ke rumahnya, tapi aku melihat rumah itu seakan tidak pernah ditinggali semlama 2 tahun, padahal 1 hari sebelumnya aku sedang ada di dalam rumah itu" jelasku panjang lebar
"tapi, kau tak pernah kesana dikkie, eomma selalu melihatmu mengurng diri di kamar tiap hari"
balas eommaku
"eomma!, aku selalu pergi setiap hari, lagi pula aku juga pernah mengatakan aku akan berkencan denganya kan?"
"ne, kau memang pernah mengatakanya, tapi salah satu pembantu kita hanya melihatmu melamun di taman kota"
"eomma, aku bersamanya!"
"dikkie, jaga nada bicaramu!" bentak appa mengingatkanku
"appa, appa juga pernah mendengarkan pembicaraanku denganya saat di telponkan?" jawabku tak mau kalah
"ne, appa memang penah mengupingmu berbicara di telpon, tapi kau hanya brbicara sendiri, tak ada orang yang menjawab omonganmu saat itu" jelas appa, itu membuatku makin lemas
"siapa namamu dan nama yeoja itu?" ucap psikoter itu menengahi berdebatan kami
"namaku han dik stra, dia memanggilku dikstra oppa, dan namanya alici liau, aku selalu memanggilku ilicia" jelasku panjang lebar
"hem...." sudah? Begitu saja jawabanya?.... Grrrr......
"lalu bagaimana pak" tanya eommaku yang mengerti pikiranku
"dikstra sebaiknya kau mengejar yeoja itu. Sebelum dia pergi dari kantor ini" jawabanya itu membuat kedua orangtuaku molongo, dan mebuatku sedikit bersemangat
"sebelum kau kesini ada seorang yeoja yang bernama alici liau, dia mengatakan masalahnya sama seprtimu, sekarang dia mungkin masih berada di ruang penenangan" mendengarnya aku langsung berlari keluar pintu dan mencari ruang penenangan, aku berlari dan tak menghiraukan sekeliling, itu membuatku terjatuh dan terguling, dan itu membuat t-shirt dan jins ku yang putih menjadi sedikit kotor, tanganku juga lecet. Begitu sampai di depan ruangan itu, badanku menegang. Akupun langsung membuka pintu yang ada di depanku
"ALICIA" ucapku bersemangat, tapi, tapi, ruangan itu kosong. Tubuhku lemas, akupun langsung berbalik dan berteriak
"Alicia!,Alicia!" Teriakku sambil berlari tanpa arah, aku turun ke lantai satu
"Alicia!Alicia!Alica!" teriakku berulang kali, kurasakan ada tangan lembut menyentuhku
"mian, kenapa kau memanggil namaku?"
suara itu, tuhan semoga itu benar dia, akupun berbalik, dan mata kami saling menatap, jantungku berdetak 3xlebih cepat
"Alicia..." ucapku lirih karena masih terkejut
"dikstra oppa" kurasa dia juga sama terkejutnya sepertiku
"aku yakin kau memang benar benar ada" bisikku ke telinganya
"ne, aku juga percaya padamu oppa"
"sarang hayeo"
"sarang haeyo" balasnya yang langsng kusambut pelukanku
"tolong jangan tinggalkan aku lagi"
"ne, memang siapa yang kuat meninggalkanmu?" jawabnya, membuatku semakin erat memeluk
"tuhan bisakah kau hentikan waktu untuk sebentar saja agar aku masih tetap memeluknya" ucapku dalam hati

-----end-----