"karena aku, em aku, tidak pernah bisa marah padamu"
"mian, maksudmu?"
"kau selalu meminta maaf padaku, kau buat bajuku basah, lalu kau menumpahkan minuman ke bajuku, kau membuatku jatuh dari pohon, dikeroyok preman tapi aku memang tidak bisa marah padamu" jelasku panjang lebar
"wae? Kenapa kau tak bisa"
kupererat pelukanku
"karena, em...."
"wae oppa?"
"sarang haeyo, kau membuatku jatuh cinta sejak pertama, aku tak bisa lepas tanpamu"
"tap, tapi"
kata itu mebuatku lemas dan melepaskan pelukanku
"mian, aku hanya ingin menyatakan perasaanku saja, aku terlalu bodoh, mana mungkin kau ska padaku yang tak punya karisma apapun" kataku kecewa dan berbalik
"oppa" kurasakan tanganya menyela di dallam tanganku dan memelukku dari belakang, aku sedikit terkejut
"sarang haeyo" bisiknya ke telingaku, tuhan bolehkah itu terulang lagi.
"bisakah kau mengulanginya lagi" pintaku
"sarang haeyo" ucapnya.
Aku langsung melepas pelukanya dan berbalik, bibir kamu bertemu dan bertahan selama 5 menit.
"gomawo alicia, sarang haeyo"
aku menoleh ke arah hutan, appa, melihatku, alicia mengikuti pengelihatanku
"oppa pulang dulu saja, aku nanti jalan saja karena aku ingin ketoko buku dulu"
"baiklah yeoja, oh ya panggil aku jagiya ya" godaku, dia hanya terlihat malu, akupun berlari ke arah appaku dan kami-aku dan appaku- pulang.
Didalam mobil, aku hanya tersenyum sendiri, sedangkan appa hanya diam membisu
"siapa tadi dikkie?" ucap appaku membuka pembicaraan
"ah, dia yeojaku, cinta pertamaku" jawabku membuat appaku terkejut.
Seterusnya kami hanya diam sampai di rumah. Aku langsung naik ke kamar dan mengcalling cute yeojaku itu, tapi, mailbox, mungkin dia sedang sibuk.
Aku terus mencoba menghubunginya tapi tetap saja nihil. Akupun mulai khawatir, esoknya akupun berjalan kerumahnya, tapi setibanya di depan rumahnya kakiku membeku, apa ini? Rumahnya terkunci sarang laba-laba ada dimana, rumput liar setinggi 15 cm. Apa aku salah rumah?, na, ini rumahnya, tapi mengapa ini terihat seperti tidak ditempati selama 2 tahun, aku terjatuh, apa ini mimpi?, airmataku mulai membasahi tanah.
"dikie, kenapa kau menagis" terdengar suara appaku, dan membantuku berdiri
"appa kemarin aku ke sini dan bermain di sini, tapi kenapa seperti ini?" ucapku tak beraturan
"memangnya ini rumah siapa dikkie? Ini rumah yeojaku, Alicia, appa melihatnya kemarinkan waktu aku di sampung danau?" ucapku makin menggebu
"dikkie, kalau appa boleh jujur, kemarin kau hanya sendirian di danau, appa juga bingung melihatmu memeluk angin, appa ingin bertanya padamu kemarin, tapi eommamu melarangnya"
"appa, dia ada aku memeluknya, kalau dia tidak ada, darimana appa tau aku ada di sana, sedangan Alicia yang menjawab telpon appa" aku mulai kacau
"mwo? Dikkie, kau sendiri yang menjawab telpon appa kemarin, dan kau sendiri yang memberitahu keberadaanmu pada apppa"
"appa!, apa appa tidak bisa membedakan suara laki-laki dan perempuan"
"dikkie, appa mengenali suaramu, anak appa sendiri"
"tap, tapi appa" akupun ambruk
"dikkie, bagaimana jika kita ke psikoterapi"
"Alicia" ucapku pasrah
"mian, maksudmu?"
"kau selalu meminta maaf padaku, kau buat bajuku basah, lalu kau menumpahkan minuman ke bajuku, kau membuatku jatuh dari pohon, dikeroyok preman tapi aku memang tidak bisa marah padamu" jelasku panjang lebar
"wae? Kenapa kau tak bisa"
kupererat pelukanku
"karena, em...."
"wae oppa?"
"sarang haeyo, kau membuatku jatuh cinta sejak pertama, aku tak bisa lepas tanpamu"
"tap, tapi"
kata itu mebuatku lemas dan melepaskan pelukanku
"mian, aku hanya ingin menyatakan perasaanku saja, aku terlalu bodoh, mana mungkin kau ska padaku yang tak punya karisma apapun" kataku kecewa dan berbalik
"oppa" kurasakan tanganya menyela di dallam tanganku dan memelukku dari belakang, aku sedikit terkejut
"sarang haeyo" bisiknya ke telingaku, tuhan bolehkah itu terulang lagi.
"bisakah kau mengulanginya lagi" pintaku
"sarang haeyo" ucapnya.
Aku langsung melepas pelukanya dan berbalik, bibir kamu bertemu dan bertahan selama 5 menit.
"gomawo alicia, sarang haeyo"
aku menoleh ke arah hutan, appa, melihatku, alicia mengikuti pengelihatanku
"oppa pulang dulu saja, aku nanti jalan saja karena aku ingin ketoko buku dulu"
"baiklah yeoja, oh ya panggil aku jagiya ya" godaku, dia hanya terlihat malu, akupun berlari ke arah appaku dan kami-aku dan appaku- pulang.
Didalam mobil, aku hanya tersenyum sendiri, sedangkan appa hanya diam membisu
"siapa tadi dikkie?" ucap appaku membuka pembicaraan
"ah, dia yeojaku, cinta pertamaku" jawabku membuat appaku terkejut.
Seterusnya kami hanya diam sampai di rumah. Aku langsung naik ke kamar dan mengcalling cute yeojaku itu, tapi, mailbox, mungkin dia sedang sibuk.
Aku terus mencoba menghubunginya tapi tetap saja nihil. Akupun mulai khawatir, esoknya akupun berjalan kerumahnya, tapi setibanya di depan rumahnya kakiku membeku, apa ini? Rumahnya terkunci sarang laba-laba ada dimana, rumput liar setinggi 15 cm. Apa aku salah rumah?, na, ini rumahnya, tapi mengapa ini terihat seperti tidak ditempati selama 2 tahun, aku terjatuh, apa ini mimpi?, airmataku mulai membasahi tanah.
"dikie, kenapa kau menagis" terdengar suara appaku, dan membantuku berdiri
"appa kemarin aku ke sini dan bermain di sini, tapi kenapa seperti ini?" ucapku tak beraturan
"memangnya ini rumah siapa dikkie? Ini rumah yeojaku, Alicia, appa melihatnya kemarinkan waktu aku di sampung danau?" ucapku makin menggebu
"dikkie, kalau appa boleh jujur, kemarin kau hanya sendirian di danau, appa juga bingung melihatmu memeluk angin, appa ingin bertanya padamu kemarin, tapi eommamu melarangnya"
"appa, dia ada aku memeluknya, kalau dia tidak ada, darimana appa tau aku ada di sana, sedangan Alicia yang menjawab telpon appa" aku mulai kacau
"mwo? Dikkie, kau sendiri yang menjawab telpon appa kemarin, dan kau sendiri yang memberitahu keberadaanmu pada apppa"
"appa!, apa appa tidak bisa membedakan suara laki-laki dan perempuan"
"dikkie, appa mengenali suaramu, anak appa sendiri"
"tap, tapi appa" akupun ambruk
"dikkie, bagaimana jika kita ke psikoterapi"
"Alicia" ucapku pasrah